Ferenki, aktivis lingkungan Meranti sejak 2010. Tidak ada latar pendidikan tinggi, tapi 14 tahun fokus pada solusi lingkungan berbasis masyarakat
Riauviral.com. MERANTI – Di tengah persoalan limbah sagu yang bertahun-tahun jadi momok di Kepulauan Meranti, muncul jawaban dari tempat yang tak terduga. Bukan dari laboratorium kampus, tapi dari tangan Ferenki, pemuda desa yang memilih mengabdi untuk alam sejak 2010.
Tanpa gelar sarjana dan tanpa fasilitas memadai, Ferenki berjalan di jalur yang jarang ditempuh anak muda seusianya. Ia memilih hutan, sungai, dan tumpukan limbah sagu sebagai ruang belajar.
Menjaga lingkungan bukan sekadar pekerjaan sosial bagi saya. Ini panggilan hidup,” kata Ferenki saat ditemui disalah satu bengkel riset sederhananya 18 Mei 2026 , mengatakan ;
Setahun Penuh Uji Coba dengan Dana Pribadi Rp 90 Juta.
Titik balik perjuangan Ferenki datang pada 2020. Ia melihat tumpukan repu dan uyung sagu yang mencemari sungai dan lahan warga. Sebagai daerah penghasil sagu terbesar di Riau, Meranti memproduksi limbah sagu puluhan ton per hari. Tapi selama ini, limbah itu dianggap tak punya nilai.
Berbekal tekad dan buku catatan yang ia tulis sendiri, Ferenki mulai riset swadaya bersama beberapa rekan aktivis. Tidak ada dana hibah, tidak ada alat canggih. Semua dilakukan di lahan terbuka dengan peralatan seadanya.
Alat beli bekas, bahan kami kumpulkan dari pabrik sagu yang mau kerja sama. Kalau gagal, kami coba lagi besoknya,” ujarnya.
Selama hampir 12 bulan, proses trial and error itu menghabiskan hampir Rp 90 juta dari uang pribadi Ferenki dan bantuan sukarela teman-temannya. Uang yang seharusnya untuk kebutuhan keluarga, ia alihkan untuk mencari jawaban atas persoalan limbah sagu.
Lahir Dua Inovasi: Batako dan Briket dari Limbah Sagu.
Kesabaran itu membuahkan hasil. Ferenki berhasil menciptakan dua produk bernilai ekonomi:
1. Batako Repu Sagu.
Limbah padat sagu diolah menjadi bahan bangunan alternatif. Hasil uji awal menunjukkan batako ini lebih ringan dan cukup kuat untuk konstruksi non-struktural. Potensinya besar untuk menekan biaya pembangunan rumah warga.
2. Briket Uyung Sagu.
Limbah halus sagu dipadatkan menjadi briket sebagai sumber energi alternatif. Briket ini lebih ramah lingkungan dibanding arang kayu dan bisa jadi solusi saat harga gas LPG naik.
Kedua inovasi itu kemudian dibawa ke ajang kompetisi internasional bidang pengelolaan limbah. Hasilnya mengejutkan: Ferenki dan tim meraih .juara 1 kategori pengelolaan limbah menjadi nilai ekonomi.
Waktu nama Meranti disebut sebagai pemenang, saya langsung ingat bapak dan ibu di kampung. Ini bukti anak desa bisa bersaing,” katanya.
Prestasi Mendunia, Tapi Masih Jalan di Tempat di Daerah Sendiri.
Di balik piala dan sertifikat itu, ada realita yang belum berubah. Hingga pertengahan 2026, inovasi Ferenki belum masuk dalam program pemerintah daerah.
Ia mengaku sudah menemui beberapa instansi seperti DLHK, Diskop UKM, dan Bappeda Meranti. Tujuannya satu: meminta dukungan teknologi, alat produksi, dan pendampingan agar inovasi ini bisa diproduksi massal dan dimanfaatkan masyarakat.
Kalau ada alat press dan ruang produksi, satu desa bisa saya dampingi untuk buat usaha ini. Satu pabrik kecil bisa serap 15-20 tenaga kerja dari eks pekerja panglong arang,” jelasnya.
Harapan itu belum terjawab. Alasannya klasik: keterbatasan anggaran, belum ada skala uji, dan belum masuk dalam program prioritas…..(zamri).
